Dokter Bedah Malang

Tanya Jawab

  1. Apakah pengertian dari patah tulang atau yang lebih sering disebut dengan fraktur?

Jawab :

Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa ( R. Sjamsuhidajat, Wimde Jong, 1997 )

Fraktur berarti deformasi atau diskontinuitas dari tulang oleh tenaga yang melebihi kekuatan tulang ( Seymor I. Schwartz, 2000 ).

  1. Apa penyebab terjadinya frakur?

Jawab :

a. Fraktur akibat peristiwa trauma
Sebagian fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba berlebihan yang dapat berupa pemukulan, penghancuran, perubahan pemuntiran atau penarikan.
b. Fraktur akibat peristiwa kelelahan atau tekanan
Retak dapat terjadi pada tulang seperti halnya pada logam dan benda lain akibat tekanan berulang-ulang. Keadaan ini paling sering dikemukakan pada tibia, fibula atau matatarsal terutama pada atlet, penari atau calon tentara yang berjalan baris-berbaris dalam jarak jauh.
c. Fraktur patologik karena kelemahan pada tulang
Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang tersebut lunak (misalnya oleh tumor) atau tulang-tulang tersebut sangat rapuh.

  1. Jelaskan patofisiolgi dari fraktur!

Ketika terjadi patah tulang yang diakibatkan oleh truma, peristiwa tekanan ataupun patah tulang patologik karena kelemahan tulang, akan terjadi kerusakan di korteks, pembuluh darah, sumsum tulang dan jaringan lunak. Akibat dari hal tersebut adalah terjadi perdarahan, kerusakan tulang dan jaringan sekitarnya.. Keadaan ini menimbulkan hematom pada kanal medulla antara tepi tulang dibawah periostium dengan jaringan tulang yang mengatasi fraktur. Terjadinya respon inflamsi akibat sirkulasi jaringan nekrotik adalah ditandai dengan vasodilatasi dari plasma dan leukosit. Ketika terjadi kerusakan tulang, tubuh mulai melakukan proses penyembuhan untuk memperbaiki cidera, tahap ini menunjukkan tahap awal penyembuhan tulang. Hematon yang terbentuk bisa menyebabkan peningkatan tekanan dalam sumsum tulang yang kemudian merangsang pembebasan lemak dan gumpalan lemak tersebut masuk kedalam pembuluh darah yang mensuplai organ-organ yang lain. Hematon menyebabkn dilatasi kapiler di otot, sehingga meningkatkan tekanan kapiler, kemudian menstimulasi histamin pada otot yang iskhemik dan menyebabkan protein plasma hilang dan masuk ke interstitial. Hal ini menyebabkan terjadinya edema. Edema yang terbentuk akan menekan ujung syaraf, yang bila berlangsung lama bisa menyebabkan syndroma compartement.

  1. Sebutkan tanda dan gejala syndroma compartement!

Jawab :

Tanda dan gejala dari Syndroma Compartement adalah :

  • Nyeri pada keadaan istirahat ( pain ).
  • Parestesia.
  • Pucat ( pale ).
  • Paresis atau paralisis.
  • Denyut nadi hilan ( pulse ).
  • Jari di posisi fleksi
  • Gangguan diskriminasi dua titik ( two points discrimination test ).
  • Tekanan tinggi di dalam komparrtemen ( pressure ).
  1. Apa saja klasifikasi fraktur? Sebutkan dan jelaskan!

Jawab :

Fraktur dapat diklasifikasikan menurut :

  1. Jenis : tranversal, spiral, oblik, segmental, kominutiva.
  2. Lokasi : diafise, metafise, epifise.
  3. Integritas kulit serta jaringan lunak yang mengelilinginya : terbuka/compound dan tertutup.
  4. kedudukan fragmen : tidak ada dislokasi dan adanya dislokasi.
  1. Pergeseran fragmen ada 4, sebutkan!

Jawab :

1. Alignman  : perubahan arah axis longitudinal, bisa membentuk sudut.

2. Panjang  : dapat terjadi pemendekan (shortening).

3. Aposisi  : hubungan ujung fragmen satu dengan lainnya.

4. Rotasi  : terjadi perputaran terhadap fragmen proksimal

  1. Dalam fraktur terbuka dapat dibedakan dalam 3 grade, sebutkan !

Jawab :

Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 grade yaitu:
a) Grade I : Robekan kulit dengan kerusakan kulit otot
b) Grade II : Seperti grade I dengan memar kulit dan otot
c) Grade III : Luka sebesar 6-8 cm dengan kerusakan pembuluh darah, syaraf otot dan kulit.

  1. Apa gejala klinis yang ditimbulkan pada fraktur?

Jawab :

a. Nyeri
b. Bengkak/edema
c. Memar/ekimosis
d. Spasme otot
e. Penurunan sensasi
f. Gangguan fungsi

g. Mobilitas abnormal
h. Krepitasi.
i. Defirmitas
j. Shock hipouolemik
k. Gambaran X-ray menentukan fraktur

9. Sebutkan komplikasi yang bisa ditimbulkan oleh fraktur!

Komplikasi akibat fraktur yang mungkin terjadi menurut Doenges (2000) antara lain:
a. Shock
b. Infeksi
c. Nekrosis divaskuler
d. Cidera vaskuler dan saraf
e. Mal union
f. Borok akibat tekanan

g. Gangren

  1. Bagaimana pemeriksaan yang dilakukan pada penderita fraktur?

Jawab :

a. RiwayatAnamnesis dilakukan untuk menggali riwayat mekanisme cedera (posisi kejadian) dan kejadian-kejadian yang berhubungan dengan cedera tersebut.

b. Pemeriksaan Fisik

- Inspeksi / LookDeformitas :  angulasi, rotasi, pemendekan, pemanjangan,  bengak. Pada fraktur terbuka à klasifikasi Gustilo

- Palpasi / Feel : Lakukan palpasi pada daerah ekstremitas tempat fraktur tersebut, meliputi persendian diatas dan dibawah cedera, daerah yang mengalami nyeri, efusi, dan krepitasi.

- Gerakan / Moving

- Pemeriksaan trauma di tempat lain : kepala, toraks, abdomen, pelvis. Sedangkan pada pasien dengan politrauma, pemeriksaan awal dilakukan menurut protokol ATLS. Langkah pertama adalah menilai airway, breathing, dan circulation.

c. Pemeriksaan Penunjang Laboratorium :  darah rutin, faktor pembekuan darah, golongan darah, cross-test, dan urinalisa.

d. Radiologis untuk lokasi fraktur.

11. Bagaimana pertolongan awal yang diberikan pada penderita patah tulang?

Jawab :

  1. Kenali ciri awal patah tulang dengan memperhatikan riwayat trauma yang terjadi karena; benturan, terjatuh atau tertimpa benda keras yang menjadi alasan kuat pasien mengalami patah tulang. Biasanya, pasien akan mengalami rasa nyeri yang amat sangat dan bengkak hingga terjadinya perubahan bentuk yang kelihatannya tidak wajar (seperti; membengkok atau memuntir).
  2. Jika ditemukan luka yang terbuka, bersihkan dengan antiseptik dan usahakan untuk menghentikan pendarahan dengan  dibebat atau ditekan dengan perban atau kain bersih.
  3. Lakukan reposisi (pengembalian tulang yang berubah ke posisi semula) namun hal ini tidak boleh dilakukan secara paksa dan sebaiknya  dilakukan oleh para ahli atau yang sudah biasa melakukannya.
  4. Pertahankan daerah patah tulang dengan menggunakan bidai/ papan dari kedua sisi tulang yang patah untuk menyangga agar posisinya tetap stabil.

12. Bagaimana penatalaksanaan fraktur?

Jawab :

Penatalaksanaan fraktur terdapat Prinsip 4R  (chairudin Rasjad)

1. Recognition : diagnosis dan penilaian fraktur

2. Reduction : mengembalikan atau memperbaiki bagian-bagian yang patah ke dalam bentuk semula (anatomis ).

3. Retention : Immobilisasi

4. Rehabilitation : mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin. Sedangkan penatalaksanaan definitif fraktur adalah dengan menggunakan gips atau dilakukan operasi dengan ORIF maupun OREF.
13. Sebutkan jenis – jenis fraktur reduction!

Jawab :

Jenis-jenis fraktur reduction yaitu:
a. Manipulasi atau close red
Adalah tindakan non bedah untuk mengembalikan posisi, panjang dan bentuk. Close reduksi dilakukan dengan local anesthesia ataupun umum.
b. Open reduksi
Adalah perbaikan bentuk tulang dengan tindakan pembedahan sering dilakukan dengan internal fixasi menggunakan kawat, screlus, pins, plate, intermedullary rods atau nail. Kelemahan tindakan ini adalah kemungkinan infeksi dan komplikasi berhubungan dengan anesthesia. Jika dilakukan open reduksi internal fixasi pada tulang (termasuk sendi) maka akan ada indikasi untuk melakukan ROM.
c. Traksi
Alat traksi diberikan dengan kekuatan tarikan pada anggota yang fraktur untuk meluruskan bentuk tulang.
14. Sebutkan macam – macam traksi yang diberikan pada penderita frkatur!

Jawab :

Ada 3 macam traksi yaitu:
1) Skin traksi
Skin traksi adalah menarik bagian tulang yang fraktur dengan menempelkan plester langsung pada kulit untuk mempertahankan bentuk, membantu menimbulkan spasme otot pada bagian yang cedera, dan biasanya digunakan untuk jangka pendek (48-72 jam).
2) Skeletal traksi
Adalah traksi yang digunakan untuk meluruskan tulang yang cedera dan sendi panjang untuk mempertahankan traksi, memutuskan pins (kawat) ke dalam tulang.
3) Maintenance traksi
Merupakan lanjutan dari traksi, kekuatan lanjutan dapat diberikan secara langsung pada tulang dengan kawat atau pins.
15. Apa komplikasi diadakannya traksi pada penderita fraktur?

Jawab :

1. Gangguan sirkulasi darah  : beban > 12 kg

2.  Trauma saraf peroneus (kruris)  : droop foot

3.  Sindroma kompartemen

4.  Infeksi : tempat masuknya pin
16.Apa tujuan diadakannya pengobatan pada penderita fraktur?

Jawab :
1.REPOSISI  Tujuan mengembalikan fragmen keposisi anatomi.
2.IMOBILISASI / FIKSASI Tujuan mempertahankan posisi fragmen post reposisi sampai

Union
3.UNION ( penyatuan tulang kembali ).
4.REHABILITASI

17.Sebutkan stadium – stadium yang terjadi pada waktu penyembuhan fraktur!

Jawab :

Penyembuhan fraktur ada  5 Stadium :

1. Pembentukan Hematom : kerusakan jaringan lunak dan penimbunan darah.

2. Organisasi Hematom  / InflamasiDalam beberapa jam post fraktur : fibroblast ke hematom, beberapa hari terbentuk kapiler (jaringan granulasi).

3. Pembentukan kallus Fibroblast pada jaringan granulasi : kolagenoblast kondroblast, partisipasi osteoblast sehat terbentuk kallus (Woven bone).

4. Konsolidasi  : woven bone berubah menjadi lamellar bone.

5. Remodelling : Kalus berlebihan menjadi tulang normal.
18.Bagaimana proses penyembuhan fraktur?

Jawab :

Proses penyambuhan fraktur adalah :

  1. Fase penyatuan : absorbsi energi pada tempat fraktur.
  2. Fase inflamasi : hematoma, nekrosis tepi fraktur, pelepasan sitokin, jaringan granulasi dalam celah – celah. Fase inflamasi berlangsung selama sekitar 2 minggu.
  3. Fase reparatif : kartilago dan tulang berdiferensiasi dari potensial dan sel – sel mesenkim. Kartilago mengalami klasifikasi endokondral, dan tulang membranosa yang dibentuk oleh osteoblas pada perifer dari kalus, secara bertahap mengganti kartilago yang berklasifikasi dengan tulang. Fase ini berlangsung selama satu sampai beberapa bulan.
  4. Fase remodelling : Membutuhkan waktu bulanan hingga tahunan untuk merampungkan penyembuhan tulang meliputi aktifitas osteoblas dan osteoklas yang menghasilkan perubahan jaringan immatur menjadi matur, terbentuknya tulang lamelar sehingga menambah stabilitas daerah fraktur (McCormack,2000).

19.Bagimana prinsip terjadinya union ( penyatuan tulang ) pada penderia fraktur?

Jawab :

a.     Dewasa  : Kortikal  3 bulan, Kanselus 6 minggu

b.     Anak-anak  : separuh dari orang dewasa
20.Prevalensi pada penderita fraktur adalah?

Jawab :

Fraktur lebih sering terjadi pada orang laki laki daripada perempuan dengan umur dibawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olahraga, pekerjaan atau kecelakaan. Sedangkan pada Usila prevalensi cenderung lebih banyak terjadi pada wanita berhubungan dengan adanya osteoporosis yang terkait dengan perubahan hormon.

QUESTION ANSWER
  1. Apakah yang dimaksud dengan limfoma non-hodgkin (LNH)?

Penyakit yang menyerang sel dari sistem limfatik, yang dikenal sebagai sel darah putih, atau limfosit. Referensi lain mengatakan, suatu keganasan primer jaringan limfoid yang bersifat padat.

  1. Apa yang akan terjadi dengan system limfa jika terserang panyakit ini?
Limfosit mulai berperilaku seperti sel kanker dan tumbuh serta berlipat ganda secara tidak terkontrol, dan tidak mati seperti pada proses yang seharusnya. Karena hal ini, limfoma non Hodgkin sering disebut sebagai kanker.
  1. `Apakah yang disebut lymphoma?
Kumpulan limphosit yang abnormal.
  1. Apakah penyebab dari non Hodgkin limfoma?
Penyebab pasti limfoma non Hodgkin tidak diketahui. Terdapat beberapa faktor risiko yang diketahui tetapi, walaupun demikian, faktor-faktor risiko ini tidak diperhitungkan melebihi bagian kecil dari jumlah seluruh kasus limfoma non Hodgkin. Pada kebanyakan pasien dengan limfoma non Hodgkin, tidak ada penyebab penyakit yang dapat ditemukan. Lebih jauh lagi, banyak orang yang terpapar pada salah satu faktor risiko yang diketahui tidak menderita limfoma non Hodgkin.
  1. Apa sajakah factor-faktor resikon dari LNH?
Yaitu:

a)      Beberapa jenis infeksi

b)      Diseases and medications that cause weakening of the sistim kekebalan (imunosupresi).

c)      Usia.(WHO: J Ferlay, F Bray, P Pisani, DM Parkin; GLOBOCAN 2000.)

  1. Beberapa jenis infeksi yang di sebabkan oleh virus terbukti maningkatkan resiko ter jadinya penyakit ini, dan virus apa yang dimaksud?
  • Human immunodeficiency virus (the virus that causes HIV/AIDS)
  • Human T cell leukaemia-lymphoma virus-1 (HTLV-1)
  • Epstein-Barr virus (EBV)
  1. Bagiamanakh patofisiologi factor resiko orang dengan ,imunosupresi?
Orang dengan imunosupresi, dimana sistim pertahanannya menurun, menghadapi peningkatan risiko terserang limfoma non Hodgkin. Hal ini mungkin karena kontrol multiplikasi sel B tergantung pada fungsi normal sel T. Jika fungsi sel T menjadi abnormal, seperti pada kasus orang dengan imunosupresi, sel B dapat berlipat ganda melalui suatu cara yang tidak terkontrol, meningkatkan peluang untuk terserang penyakit limfatik ini.
  1. Non-hodgkin limfoma digolongkan dalam berapa klasifikasi? Sebutkan?
Ada 2klasifikasi besar  penyakit ini yaitu?

  • Limfoma non Hodgkin agresif
  • Limfoma non Hodgkin  indolen
  1. Apakah yang disebut dengan limfoma non Hodgkin agressif?
Limfoma non Hodgkin agresif kadangkala dikenal sebagai limfoma non Hodgkin tumbuh cepat atau level tinggi.karena sesuai dengan namanya, limfoma non Hodgkin agresif  ini tumbuh dengan cepat. Meskipun nama ‘agresif’ kedengarannya sangat menakutkan, limfoma ini sering memberikan respon sangat baik terhadap pengobatan. Meskipun pasien yang penyakitnya tidak berespon baik terhadap standar pengobatan lini pertama, sering berhasil baik dengan kemoterapi dan transplantasi sel induk. Pada kenyataannya, limfoma non Hodgkin agresif lebih mungkin mengalami kesembuhan total daripada limfoma non Hodgkin indolen.
10.  Apakah yang disebut dengan limfoma non Hodgkin indolen?Limfoma non Hodgkin indolen kadang-kadang dikenal sebagai limfoma non Hodgkin tumbuh lambat atau level rendah. Sesuai dengan namanya, limfoma non Hodgkin indolen tumbuh hanya sangat lambat. Secara tipikal ia pada awalnya tidak menimbulkan gejala, dan mereka sering tetap tidak terditeksi untuk beberapa saat. Tentunya, mereka sering ditemukan secara kebetulan, seperti ketika pasien mengunjungi dokter untuk sebab lainnya. Dalam hal ini, dokter mungkin menemukan pembesaran kelenjar getah bening pada pemeriksaan fisik rutin. Kadangkala, suatu pemeriksaan, seperti pemeriksaan darah, atau suatu sinar-X, dada, mungkin menunjukkan sesuatu yang abnormal, kemudian diperiksa lebih lanjut dan ditemukan terjadi akibat limfoma non Hodgkin. Gejala yang paling sering adalah pembesaran kelenjar getah bening, yang kelihatan sebagai benjolan, biasanya di leher, ketiak dan lipat paha. Pada saat diagnosis pasien juga mungkin mempunyai gejala lain dari limfoma non Hodgkin. Karena limfoma non Hodgkin indolen tumbuh lambat dan sering tanpa menyebabkan stadium banyak diantaranya sudah dalam stadium lanjut saat pertama terdiagnosis.
11.  Dalam penentuan diagnose LNH di klasifikasikan perlu adanya penentuan yang jelas sejauh mana penyakit ini menyebar. Ada berapa stadium yang ditentukan pada LNH?Sistim stadium yang paling umum yang menggunakan empat stadium, dengan penomoran angka Romawi I-IV. Dalam bentuknya yang paling sederhana, stadium I dan II sering dikelompokkan bersama sebagai stadium awal penyakit, sementara stadium III dan IV dikelompokkan bersama sebagai stadium lanjut.
12.  Jelaskan point per stadium?
  • Stadium I limfoma hanya pada satu kelompok kelenjar getah bening
  • Stadium II dua atau lebih kelompok kelenjar getah bening terserang, tetapi hanya pada satu sisi diafragma, baik pada seluruh dada ataupun diseluruh perut
  • Stadium III dua atau lebih kelompok kelenjar getah bening terserang, pada dada dan perut
  • Stadium IV limfoma ada setidaknya pada satu organ selain pada kelenjar getah bening (sebagai contoh, sumsum tulang , hati, atau paru-paru)
13.  Ada banyak jenis limfoma, baik yang agresif maupun yang indolen namun untuk menentukan jenis limfoma, dibutuhakan biopsy atau sampel untuk pemeriksaan. Criteria apakah yang ditentukan:Jenis limfoma non Hodgkin ditentukan oleh :

  • Jenis sel abnormal dalam limfoma (terutama sel B atau sel T)
  • Tampilan kelenjar getah bening yang terserang
  • Jenis protein, atau petanda, pada permukaan sel abnormal
14.  Apa sajakah pemeriksaan yang dilakukan dalam menentukan diagnose dan stadium LNH?Riwayat penyakit pasien, pemeriksaan fisik, penentuan stadium juga memerlukan pemeriksaan seperti sinar-X, CT scan, PET scan, biopsi sumsum tulang dan pemeriksaan darah.
15.  Mengapa pemeriksaan diagnostik sangat penting untuk menegakkan diagnosis limfoma non Hodgkin?Semua gejala yang dapat disebabkan oleh limfoma non Hodgkin juga dapat ditimbulkan oleh penyakit lain. Dengan kata lain, tidak ada satu gejala yang dapat digunakan untuk menjamin adanya limfoma non Hodgkin.
16.  Apakah gejala umum pada LNH?Gejala paling umum dari limfoma non Hodgkin pada saat didiagnosis adalah pembengkakan kelenjar getah bening, terdapat gejala lainnya. Termasuk :

  • Gejala konstitusional (Gejala tidak sehat secara umum)
  • Gejala yang dapat dihubungkan dengan pembengkakan limfoma diluar kelenjar getah bening

Gejala konstitusional adalah gejala-gejala yang tidak spesifik yang mengindikasikan seseorang tidak sehat. Gejala konstitusional yang sering timbul pada limfoma non Hodgkin termasuk:

  • Demam berulang, yang tidak dapat diterangkan penyebabnya (dengan suhu tubuh melebihi 38 oC)
  • Keringat malam , yang membasahi pakaian tidur dan alas tidur
  • Kehilangan berat badan yang tidak diinginkan (penurunan berat badan lebih dari 10% berat badan dalam 6 bulan)
  • Kelelahan yang berat dan menetap
  • Penurunan nafsu makan

Gejala umum lainnya yang akan dialami oleh orang dengan limfoma non Hodgkin meliputi :

  • Bernapas pendek dan batuk
  • Gatal-gatal, yang menetap dan dapat dirasakan diseluruh tubuh
17.  Apakah gejala yang timbul pada LNH indolen?Ketika timbul, gejala, dapat dibagi ke dalam empat kelompok besar :

  • Bengkak pada satu atau lebih kelenjar getah bening
  • Gejala konstitusional (Gejala tidak sehat secara umum)
  • Gejala yang dapat dihubungkan dengan pembengkakan limfoma diluar kelenjar getah bening
  • Gejala yang dapat dihubungkan dengan penurunan jumlah sel darah
18.  Jelaskan komplikasi yang dapat ditimbulkan penyakit LNH?Komplikasi dapat terjadi pada LNH yang sudah mencapai stadium IV , penyebaran Limfoma selain pada kelenjar getah bening setidaknya pada satu organ lain juga seperti sumsum tulang, hati, paru-paru, atau otak.

19.  Sebutkan diagnosis banding dari LNH?
  1. Lymphoma Hodgkin

Penyakit hodgkin  adalah suatu jenis keganasan sistem

kelenjar getah bening dengan gambaran histologis

yang khas. Ciri histologis yang dianggap khas adalah

adanya sel Reed-Sternberg atau variannya yang

disebut sel Hodgkin  dan gambaran selular getah

bening yang khas.

b.   Limfadenitis Tuberkulosa

Merupakan salah satu sebab pembesaran kelenjar

limfe yang paling sering ditemukan. Biasanya

mengenai kelenjar limfe leher, berasal dari mulut dan

tenggorok (tonsil). Mula-mula kelenjar-kelenjar keras dan tidak saling melekat, tetapi kemudian karena terdapat periadenitis, terjadi perlekatan-perlekatan

20.  Bagaimana penatalaksanaan terapi LNH?Digolongkan menjadi 3 terapi yang dapat dilakukan, biasanya melalui pendekatan multidisiplin. Terapi yang dapat dilakukan adalah:

1. Derajat Keganasan Rendah (DKR)/indolen:

Pada prinsipnya simtomatik

- Kemoterapi: obat tunggal atau ganda (per oral), jika    dianggap perlu: COP (Cyclophosphamide, Oncovin, dan Prednisone)

- Radioterapi: LNH sangat radiosensitif. Radioterapi ini dapat dilakukan untuk lokal dan paliatif.

Radioterapi: Low Dose TOI + Involved Field Ra-

diotherapy saja.

2. Derajat Keganasan Mengah (DKM)/agresif limphoma

- Stadium I: Kemoterapi (CHOP/CHVMP/BU)+radioterapi

CHOP (Cyclophosphamide, Hydroxydouhomycin,

Oncovin, Prednisone)

- Stadium II – IV: kemoterapi parenteral kombinasi,

radioterapi berperan untuk tujuan paliasi.

3. Derajat Keganasan Tinggi (DKT)

DKT Limfoblastik (LNH-Limfoblastik)

- Selalu diberikan pengobatan seperti Leukemia

Limfoblastik Akut (LLA)

- Re-evaluasi hasil pengobatan dilakukan pada:

1. setelah siklus kemoterapi ke-empat

2. setelah siklus pengobatan lengkap

21.  Secara umum pengobatan apakah yang dapat dilakukan?Kemoterapi, Terapi antibodi monoklonal, Terapi Radiasi, Transplantasi, Pembedahan, Terapi eksperimental, atau Penatalaksanaan gejala.

  1. Apa yang dimaksud dengan hemoroid/ambeien?
    Jawab:
    Hemoroid/ambeien adalah  pelebaran vena di dalam pleksus hemoroid/ambeienalis yang tidak merupakan keadaan patologik.
  2. Hemoroid/ambeien dibedakan menjadi 2 yaitu hemoroid/ambeien interna dan eksterna, jelaskan masing-masing hemoroid/ambeien tersebut?
    Jawab:
    Hemoroid/ambeien interna adalah pleksus v. hemoroid/ambeienalis superior diatas garis mukotan dan ditutupi oleh mukosa, sedangkan hemoroid/ambeien eksterna merupakanpelebaran dan penonjolan pleksus hemoroid/ambeien inferior terdapat disebelah distal garis mukokutan di dalam jaringan dibawah epitel anus.
  3. Apa yang menyebabkan terjadinya hemoroid/ambeien?
    Jawab:
    Konstipasi, menngejan saat buang air besar, kecenderungan varises herediter, kehamilan, posisi berdiri yang lama, posisi berdiri yang lama, tumor abdomen, obesitas.
  4. Keluhan apa yang sering muncul pada penderita hemoroid/ambeien?
    Jawab:
    Buang air besar sakit dan sulit, adanya benjolan di dubur, buang air besar berdarah segar dan menetes
  5. Apa gejala dari hemoroid/ambeien?
    Jawab:
    Perdarahan lewat dubur, nyeri, pembengkak-an atau penonjolan di daerah dubur, sekret atau kekuar cairan melalui dubur, rasa tidak puas waktu buang air besar, dan rasa tidak nyaman di daerah pantat.
  6. Apa indikasi operasi pada penderita hemoroid/ambeien?
    Jawab:
    Penderita dengan keluhan menahun dan hemoroid/ambeien derajat III dan IV, Perdarahan berulang dan anemia yang tidaksembuh dengan terapi lain yang lebih sederhana, Hemoroid/ambeien derajat IV dengan thrombus dan nyeri hebat.
  7. Apa kontra indikasi pada penderita hemoroid/ambeien?
    Jawab:
    Hemoroid/ambeien derajat I dan II, Penyakit Chron’Karsinoma rectum yang inoperables, Wanita hamil, Hipertensi portal
  8. Apa saja diagnosis banding hemoroid/ambeien?
    Jawab:
    Karsinoma kolorektum, Penyakit divertikel, Polip, Kolitis ulseratifa, Prolaps rekti, Prolaps ani, Proktitis spesifik dan non spesifik/ Chron’s disease/ Amubiasis.
  9. Derajad hemoroid/ambeien berdasarkan prolaps bantalan ada empat macam sebutkan dan jelaskan!
    Jawab:

    • Derajad 1: Bantalan anus tidak turun sampai ke linea dentate saat mengedan, sering disertai perdarahan.
    • Derajad II: Bantalan anus prolaps sampai di bawah linea dentate saat mengedan, dapat terlihat dari luar dan langsung menghilang bila mengedan dihentikan.
    • Derajad III: Bantalan anus hingga keluar saat mengedan atau defekasi dan tetap di luar sampai direposisi secara manual, dan akan kembali turun saat mengedan berikutnya.
    • Derajad IV: Prolaps tidak dapat direposisi secara manual, memberikan gambaran bantalan interna yang ditutupi mukosa.
  10. Penyulit utama hemoroid/ambeien apa saja?
    Jawab:
    Anemia dan trombosis. (more…)
Page 1 of 41234»

Page optimized by WP Minify WordPress Plugin